Berita

Antusias Mama Papua Dukung Diversifikasi Pangan

Kementerian Pertanian menggalakkan program diversifikasi pangan untuk mengangkat komoditas pangan nasional dari hulu sampai hilir. Salah satunya yaitu tanaman Sagu.

Sagu merupakan salah satu makanan pokok masyarakat papua yang diolah menjadi makanan tradisional dengan sebutan papeda. Sebab sagu memiliki potensi yang besar untuk digunakan sebagi pengganti beras.

Papua Barat menjadi kawasan penghasil sagu terbesar nusantara, Sehingga memiliki potensi besar untuk diolah menjadi bahan pangan yang lebih komersial seperti diolah menjadi mie dan sirup glukasa.

Selain itu sagu juga dapat dimanfaatkan menjadi bahan pakan ternak ataupun pupuk kompos dengan memanfaatkan ampas sagu.

Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo pada saat berkunjung di Sorong, Papua Barat.

Ia melihat potensi yang besar dengan hamparan luas pohon sagu maka perlunya menggenjot Sumber Daya Manusia (SDM) yang ada di Papua Barat agar bisa mengubah olahan sagu menjadi olahan yang terbarukan dengan sentuhan teknologi.

“Di Papua tanaman sagu sangat oke, sehingga perlu didukung SDM yang ada di Papua khususnya mama papua dibina dengan melakukan bimtek atau pelatihan untuk membuat olahan dari bahan sagu, seperti sagu harus jadi mie, kemudian ada perlakuan teknologi, biar tampilan (pati) menjadi putih bersih,” ungkap SYL.

Hal tersebutpun terus dikampanyekan oleh Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) Dedi Nursyamsi agar pemanfaatan pangan lokal dapat memenuhi pangan Indonesia.

“Pangan lokal Indonesia sangat melimpah. Tersedia diseluruh Tanah Air. Setiap daerah pun memiliki pangan lokal sendiri-sendiri. Seperti di Papua, Papua Barat, Maluku yang kaya akan sagu dan menjadi pangan utama.” Jelas Dedi

Menindak lanjuti hal tersebut Politeknik Pembangunan Pertanian Manokwari mengadakan Bimbingan Teknis Bioindustri Sagu yang diperuntukan untuk mama papua yang berada distrik Manokwari Utara

Kegiatan ini merupakan lanjutan dari Bimtek yang pernah dilaksanakan sebelum di kabupaten Sorong. Antusias mama papua pun diperlihatkan dengan melaksanakan praktek pembuatan mie kering dan mie basah yang terbuat dari bahan sagu dengan sungguh-sungguh.

Sebanyak 30 warga yang ikut merupakan perwakilan dari 23 kampung dari Manokwari Utara mengikuti pelatihan tersebut hinga nanti kembali lalu mengajarkan di kampung masing-masing.

Kegiatan dilaksanakan dengan tetap menjalankan protokol kesehatan dengan di bagi dua kelompok untuk melihat perbandingan mie yang dihasilkan dari sagu produksi Bogor dan sagu yang diproduksi dari Sorong Selatan.

Tidak hanya sampai proses pengolahan, kegiatan bimtek ini mengajarkan hingga proses pengemasan serta pemberian label agar mama papua bisa belajar untuk menproduksi sampai prodak tersebuk layak untuk dijual.

Hal dasar yang diajarkan dalam pembuatan mie sagu dibuat dengan perbandingan 50% tepung sagu dan 50% tepung terigu agar peserta tidak kewalahan pada proses pembuatan sehingga mie yang dihasilkan tdk mudah putus karena tekstur dari sagu sendiri yang terlalu kenyal bila diolah 100 persen.

Wakil Direktur III Politekni Pembangunan Pertanian Manokwari Latarus Fangohoi yang hadir membuka acara menyampaikan bahwa kegiatan yang dilaksanakan sangat penting. karena di Indonesia timur, sagu merupakan pangan lokal.

“Seringkali yang dijumpai cuman olahan sagu yang dibikin jadi papede, sehingga kami berinisiatif menggerakkan ibu-ibu untuk membuat olahan dengan memanfaatkan teknologi tepat guna”. Jelas Latarus

“Polbangtan manokwari memiliki peran penting untuk bagaimana melakukan pelatihan membuat produk yang dapat dikomsumsi keluarga dengan mengubah pola pikir agar prodak yang dihasilkan memiliki nilai tambah” tambahnya.

Show More
Back to top button
Close
×

Kontak Kami

×