Berita

Pengembangan SDM Penyuluh, Kunci Kemajuan Pertanian

20 Maret 2020 – Jakarta – Usai dilantik menjadi Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo, bergerak cepat. Dalam satu pertemuan awal bersama jajarannya, Menteri yang akrab disapa SYL itu langsung menanyakan siapa Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP)? Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr., mengacungkan jari. Beliau sebagai Kepala BPPSDMP.

SYL pun meminta Prof. Dedi, bagaimana caranya agar penyuluh pertanian diberdayakan kembali secara maksimal sebagai ujung tombak pertanian. Tentu ini erat hubungannya dengan sumberdaya manusia (SDM) pertanian, dan terkait pula dengan bagaimana penyuluh dapat dikoordinasikan secara terpusat. Tujuannya agar Indonesia berjaya kembali dalam pertanian.

Itulah sekelumit yang diceritakan Prof. Dedi kepada AGRONET awal pekan lalu di Kantor Kepala BPPSDMP, Gedung D, Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta. Beliau berkenan menyampaikan panjang lebar bagaimana upaya peningkatan SDM pertanian, berbagai program dan kegiatan yang telah dan akan dilakukan Kementan khususnya di BPPSDMP. AGRONET akan menurunkan ulasan Prof. Dedi dalam beberapa tulisan.

AGRONET : Kenapa saat ini penyuluh SDM manjadi sentral utama pembangunan pertanian?

Prof. Dr. Ir. Dedi Nursyamsi, M.Agr. :

Bagi saya pengembangan sumber daya manusia (SDM) mesti yang harus utama dalam membangun sektor pertanian. Dalam sebuah pendapat, SDM berkontribusi dalam peningkatan produksi dan produktivitas pertanian, mencapai peran hingga 50 persen.

Terkait SDM ini, kita dapat melihat seperti sejarah Jepang. Pertama dilakukan setelah kehancuran akibat perang dunia kedua adalah pengembangan SDM. Yang dipikirkan dan dilakukan pertamakali oleh Kaisar Jepang saat itu adalah guru-guru yang masih hidup, sisa perang, dikumpulkan. Mereka diperintahkan agar mendidik anak-anak Jepang menjadi pintar. Dalam keadaan bangkrut saat itu, Jepang mengalokasikan seluruh dana yang tersisa untuk meningkatkan SDM atau pendidikan. Pada tahun 1945 Jepang yang bangkrut, namun tahun 1970-an Jepang berhasil menguasai dunia karena keunggulan SDM. Mereka menguasai bidang elektronik, otomotif, temasuk teknologi pertanian hingga saat ini.

Sejarah Jepang ini menjadi salah satu contoh, kenapa SDM harus didahulukan dalam pengembangan pertanian. Kontribusi SDM memang sangat luar biasa. Hanya memang masih banyak orang yang mengarah kepada hal teknis karena lebih mudah diukur dan hasilnya langsung terlihat, seperti pembangunan infrastruktur.

Sejarah Indonesia pernah membuktikan bagaimana SDM berkontribusi besar dalam pembangunan pertanian. Era Orde Baru di bawah Presiden Soeharto berhasil menerima penghargaan dari badan pangan dunia, Food and Agriculture Organization (FAO). Soeharto berhasil menjungkirbalikkan fakta. Indonesia semula sebagai negara pengimpor beras di dunia, berhasil berbalik menjadi negara yang swsembada beras.

Langkah yang dilakukan Presiden Soeharto saat itu menggenjot SDM, para penyuluh pertanian. Para mahasiswa yang mengikuti kuliah kerja nyata (KKN) saat itu pun turun ke lapangan menjadi penyuluh. Para fresh graduate atau yang baru lulus dari universitas digenjot turun ke sawah. Dari tahun 1970-an dalam hitungan kurang dari 20 tahun, produksi beras meningkat drastis. Keberhasilan ini tidak lepas dari peran penyuluh, peran SDM.

Kala itu, juga di bawah Presiden Soeharto, pembinaan, pelatihan bagi penyuluh gencar dilakukan. Para dosen dan pendidik dikerahkan untuk membina penyuluh. Pada saat yang sama para penyuluh diberi keleluasaan untuk berinteraksi langsung dengan para petani. TVRI dan RRI saat itu diarahkan untuk penyuluhan. Sarana dan prasarana penyuluh pun disediakan.

Di beberapa daerah, seperti di Pangandaran, Jawa Barat, penyuluh diberikan fasilitas motor X Trail, sama seperti yang diterima camat. Sementara beberapa pegawai, pejabat lain masih menggunakan sepeda. Dibangun Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) di kecamatan dengan fasilitas kantor yang memadai, terawat, dan bersih. Penyuluh kala itu mendapat posisi terhormat, beriringan pula dengan perannya yang cukup strategis.

Oleh pemerintah pusat, para pejabat, gubernur, bupati, camat, hingga lurah, harus mampu memenuhi target produksi beras. Bagi yang tidak memenuhi target, bersiap untuk menerima konsekuensi, pertaruhan jabatan. Akhirnya pejabat, misal bupati berbondong-bondong merangkul para penyuluh guna meningkatkan produktivitas pertanian. Memang harus diakui, tidak semua kebijakan di zaman Orde Baru dianggap negatif. Kebijakan menggerakan penyuluh pada faktanya berhasil meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian.

Peran-peran penyuluh dan keberhasilannya kala itu yang sedang diadopsi Kementerian Pertanian saat ini dalam Program Komando Strategi Pembangunan Pertanian (Kostratani). Program ini diinisiasi oleh Menteri Pertanian, Syahrul Yasin Limpo. Untuk menjalankan Kostratani, para penyuluh harus siap. Semua SDM digerakkan turun ke lapangan, di semua level tingkatan. Artinya kita semua harus siap, bertekad untuk siap membangun pertanian. Tidak ada kata lain, harus siap.

Kini para penyuluh di lapangan sangat antusias menyambut, karena memang lebih satu dekade, dan semua orang tahu, penyuluh tidak diberdayakan maksimal, sehingga di beberapa tempat penyuluh kurang efektif. Kini penyuluh mulai diperhatikan dan diberdayakan.

Kostratani merupakan pusat gerakan pembangunan pertanian yang berbasis teknologi informasi (IT). Indonesia sangat luas dengan beragam kondisi daerah, rentang kendali cukup jauh, dan  beberapa wilayah tingkat akses yang relatif sulit. Untuk mengatasi hal itu perlu teknologi informasi, internet of things (IOT), big data, artificial intelligence, untuk komando, komunikasi, serta laporan secara dua arah. Kostratani dapat diartikan sebagai optimalisasi Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang ada di tingkat kecamatan dengan menggunakan sistem IT.

Kostratani mempunyai tools atau alat sebagai perangkat menggerakkan pembangunan pertanian, berupa Agriculture War Room (AWR) yang berada di pusat, di gedung Kementan. AWR sebagai tempat menampilkan ide-ide pembangunan pertanian. Di saat yang sama sebagai sentral komando pembangunan pertanian.

AWR terkoneksi secara online dengan Kostrawil (Provinsi), Kostrada (Kabupaten), dan Kostratani (BPP di kecamatan). Saat ini AWR sudah terkoneksi dengan 400 Kostratani, 100 Kostrada, dan 34 Kostrawil. Tahun 2020 ini ditargetkan tambahan terkoneksi 2.893 (Kostrada dan Kostratani). Tahun 2021 diharapkan sudah terkoneksi seluruhnya.

Dalam jadwalnya, setiap hari Jumat, melalui AWR secara online, video conference, Menteri Pertanian akan menyapa dalam event, “Mentan Sapa Penyuluh dan Petani”. Untuk itu kita memang perlu meningkatkan SDM pertanian, penyuluh, menuju pertanian kita yang berjaya kembali. (Agronet/139).

Sumber : https://www.agronet.co.id/detail/indeks/info-agro/4858-Pengembangan-SDM-Penyuluh-Kunci-Kemajuan-Pertanian

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close