MANOKWARI – Menghadapi ancaman kekeringan akibat El Nino, Kementerian Pertanian menganfalkan program percepatan Pompanisasi dan Pengelolaan Irigasi.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Kementan memilih melakukan langkah antisipatif sebelum dampak kekeringan meluas. Menurutnya, pengalaman menghadapi El Nino pada tahun-tahun sebelumnya menjadi pelajaran penting bahwa mitigasi harus dilakukan sejak dini.
“Kita harus bergerak sebelum kekeringan meluas. Jangan sampai petani kehilangan musim tanam. Karena itu kami mempercepat berbagai langkah mitigasi, salah satunya melalui gerakan pompanisasi agar air tetap tersedia dan produksi,” kata Amran.
Menanggapi arahan Menteri Pertanian, Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari pada Pelaksanaan forum edukasi Millennial Agriculture Forum (MAF) voleme 7 edisi ke 36 mengangkat Tema “Pertanian Tangguh, Menanam di Bawah Matahari : Air adalah Emas, Lahan Kering Bukan Alasan,” sabtu (05/09/26)
Pelaksanaan MAF tersebut menjadi wadah diskusi dalam merumuskan langkah taktis dalam menanggulangi dampak El Nino dengan menghahadirkan narasumber Arbal Fadli Selaku Koordinator Teknis Satuan Kerja SNVT/PJPA BWS Papua dan Feri Irawan selaku Sekretaris Brigade Pangan Maju Sejahtera I.
Kehadiraan ke dua narasumber memberikan pandangan langsung terkait pemanfaatan pompanisasi dan pembangunan infarastruktur jaringan irigasi perpompaan yang memungkinkan petani untuk terus menanam tanpa harus bergantung pada curah hujan.
Hal tersebut sejalan dengan arahan, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti menjelaskan bahwa untuk memastikan pertanaman aman dari Ancaman El Nino, pemerintah memperkuat langkah mitigasi melalui melalui pengaktifan pompanisasi dan irigasi perpompaan guna menyelamatkan lahan yang rawan kekeringan.
Menurutnya, penyediaan pompa air menjadi salah satu langkah penting dalam menghadapi potensi penurunan ketersediaan air selama musim kemarau. Dengan dukungan tersebut, petani diharapkan tetap memiliki akses air yang cukup untuk menjaga pertumbuhan tanaman di lahan mereka.
Sementara itu, Direktur Polbangtan Manokwari, O’eng Anwarudin menyampaikan tema ini disiapkan sebagai upaya mengantisipasi kekeringan sesuai prediksi BMKG bahwa akan terjadi musim kering yg lebih panjang tahun ini.
“Menghadapi musim kering ini, salah satu solusinya yaitu pemanfaatan pompa dan irigasi perpompaan.Hanya saja kadang, penggunaan BBM pada pompa ini menjadikan petani dengan biaya yang lebih besar. Untuk itu, listrik masuk sawah menjadi solusi efisien menghadapi kenaikan harga BBM,” kata O’eng
Ia menjelaskan, beberapa lokasi di Papua sudah menggunakan inovasi Jaringan irigasi air tana (JIAT) dengan listrik seperti di keroom dan sarmi di provinsi Papua dan JIAT menggunakan tenaga surya di kabupaten merauke Papua selatan.
“Ini menjadi wujud kolaborasi antara kementerian pertanian dan kementerian PUPR
Dalam rangka mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan,” pungkasnya
Menurutnya, kekeringan merupakan salah satu ancaman yang paling nyata dilapangan. Tentunya mengganggu pencapaian swasembada pangan yang sudah direncanakan supaya bisa berkelanjutan. Ketika sumber air mengering seluruh rantai pasok pangan akan terganggu, beresiko memicu gagal panen dan mengancam ketahanan nasional.
“Ini semua harus diantisipasi dengan mencari sumber air dan membuka akses agar air dapat mengalir ke lahan pertanian. Sehingga padi yang sudah ditanam bisa aman hingga panen. Dan kalau air berlimpah bisa mencapai MT3,” jelasnya
Hadir memberikan closing statemen, kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Muhammad Amin menekankan bahwa padi adalah tanaman yang membutuhkan pasokan air yang stabil. Oleh karena itu, pemanfaatan teknologi pompanisasi dan penyediaan sumber air baru harus dimaksimalkan.
Untuk memastikan keberhasilan strategi tersebut di lapangan, perlu adanya pengawalan dan pendampingan yang intensif dari para penyuluh pertanian dan Widyaiswara kepada kelompok tani maupun petani milenial.
Ia berharap agar seluruh yang terlibat dapat terus bergandengan tangan untuk dapat mengimplementasikan solusi teknis yang tepat sasaran dalam menyelesaikan krisis air di wilayah masing-masing, demi mewujudkan pertanian Indonesia yang tangguh dan mampu menopang ketahanan pangan nasional.



