Berita

Zaman Peradaban Hingga Zaman Modern di Pedalaman Tambrauw

7 Mei 2020, Manokwari

Oleh: Humas Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari.

Yordan Evan Sedik, pria asal Pedalaman Tambrauw. Jordan begitu ia kerap disapa, menceritakan zaman dahulu kala, sebelum masuknya penginjil di pedalaman Tambrauw (Karon/Miyah) saat itu masyarakat masih tinggal di hutan. Dengan budaya dan adat yang identik dengan saling bunuh membunuh.

Begitu masuknya penginjil beragama Katolik di Tambrauw kemudian ke Syururem menjadi tempat pertama ajaran katolik dengan pembukaan doa oleh Pastor Berkebangsaan Belanda, Willem Rombouth. Dari sanalah masyarakat Tambrauw yang tadinya hidup primitif mulai berubah. Dibeberapa tempat mulai didatangkan guru penginjil untuk mengajar dan membimbing masyarakat, seperti di Tintum yang sekarang berpindah ke Senopi menjadi Paroki Santo Yosep Senopi yang awalnya hanya kampung kini dimekarkan jadi Distrik Senopi yang awalnya Ibukota Distrik di Kebar/Anjai.

Meski sudah menjadi modern, budaya atau adat yang tidak dilepaskan. Perkawinan misalnya, masyarakat disana memperbolehkan untuk kawin silang. Perkawainan dapat tidak terlalu mengikat oleh adat atau budaya, yang diharapkan hanya kemampuan untuk menjamin keluarga membayar maskawin dan mengunakan pakaian adat yang masih digunakan sebagian harta warisan moyang hingga kini.

Pakaian adat tersebut cawat, yang digunakan sehari-hari. Namun perlahan diubah kini hanya mengunakan pakaian seperti masyarakat nusantara pada umumnya. Hal yang tak terusik oleh zaman yaitu kudapan. Sagu, kasbi/singkong, dan pisang pun sudah ada sejak zaman adam dan hawa. Dari cerita rakyat (dongeng) sudah disampaikan adanya makanan khas tersebut dan kini masih menjadi makanan pokok mereka.

Gizi yang baik mengantarkan anak-anak mereka untuk bersekolah. Di Senopi telah di bangun SD bernama SD YPPK Senopi. Siswanya banyak berdatangan dari seluruh pelosok Tambrauw dan sebagian siswa lain dari Maybrat. Tak tanggung-tanggung lulusannya banyak yang sudah sukses menjadi guru, mantri, dan lain-lain. Merekapun kembali mengabdi sebagai putra daerah yang memajukan adik-adik atau anak-anak disana.

Tahun 2010, SMP Negeri 26 Senopi masih kekurangan tenaga pengajar. Guru hanya guru honorer yang bukan memiliki profesi sebagai guru, mereka adalah putra daerah yang bersedia mengajarkan adik-adik tercinta. Mereka pun mendapat apresiasi dari kepala Sekolah setempat, sikap saling mengormati dan menghargai sangat terasa disekolah ini.

Jordan sang narasumber, merupakan pemuda yang beruntung, meski orang tua Jordan hanyalah seorang petani yang tidak mempuyani penghasilan tetap, ia memiliki sanak keluarga yang peduli akan pendidikan. Minimnya akses pendidkan di Tambrauw, keluarga Jordan mengirimnya untuk bersekolah di Sorong hingga tamat SMK. Putra daerah Tambrauw yang berasal dari Senopi ini, sekarang mengenyam pendidikan di Polbangtan Manokwari dan bercita-cita untuk membangun masyarakat di Distrik Senopi dan Tambrauw pada umumnya.

Kembali mengenang pada perkirakan tahun 2011 sampai 1990-an, kala itu transportasi ke Tambrauw hanya dengan pesawat AMA/Cessna. Missi Katolik yang membuat Bandar Udara di Senopi, pesawat menjadi transportasi andalan untuk anak-anak mengenyam pendidikan diluar Tambrauw. Manokwari, Sorong, Fakfak dan kota lain menjadi daerah tujuan anak-anak menuntut ilmu.

Masyarakat di Tambrauw pada umumnya sebagian besar tidak punya penghasilan karena akses jalan dan sarana prasarana yang begitu lambat bahkan belum terealisasikan oleh pemerintah. Dampaknya, banyak anak-anak yang putus sekolah karena tidak ada biaya, kurang motifasi, atau pengalaman yang kurang untuk bagaimana bertahan di rantauan.

Mendiang Abraham Octavianus Atururi, Gubernur Papua Barat kala itu, mulai membuat akses jalan sehingga memudahkan masyarakat untuk membangun sarana dan prasarana di Tambrauw. Meski belum secara signifikan membuat pendapatan masyarakat bertambah, setidaknya Abraham Octavianus Atururi bersama Pemerintah Tambrauw sudah memberikan perhatiannya kepada masyarakat.

Jika dipresentasikan Pemerintah Tambrauw sudah meningkatkan pembangunan daerah 45 persen dari yang awal hutan belantara hingga banyak tempat-tempat atau dusun yang mengalami pemekaran menjadi desa/Kampung bahkan menjadi Distrik. Sisanya sebanyak 55 persen merupakan Missi Katolik yang mendampingi Pemerintah dalam membangun sumber daya manusia.

SDM yang profesional dalam bidang kesehatan di Tambrauw pun masih kurang, sama halnya dengan bidang pendidikan. Tambrauw pada awalnya seperti itu dan faktanya seperti itu namun, Jordan bersyukur karena pemerintah cukup berkorban untuk membangun masyarakat seperti terealisasinya jalan dan juga jaringan telepon. Dahulu hanya bisa lewat SSB telepon dari Missi Katolik atau melalui surat kabar yang dibawakan oleh pejalan kaki yang memakan waktu di tengah gunung dan hutan rimba dengan di temani binatang berbuas ataupun orang jahat (suanggi) yang berhari-hari bulan bahkan tahun.

Saat ini banyak putra daerah Tambrauw yang dahulu korban pendidikan namun dengan semangat dan tekad mereka bisa menyelesaikan pendidikan hingga di kursi perguruan tinggi. Senopi telah melahirkan purta daerah cemerlang. Jordan yang dipercayakan menjadi seorang Provost oleh Kampusnya terus belajar untuk menekuni tugas. Ia merasa bangga menjadi bagian masyarakat di Pedalaman Tambrauw dan tidak akan sia-siakan pendidikan yang sedang diembannya.

“Tidak ada orang lain yang datang membangun di negeri orang maka yang saya harapkan saya sendiri sebagai Mahasiswa Polbangtan Manokwari dan teman-teman serta rekan-rekan Putra Daerah Tambrauw tekun dalam berpendidikan,” harap Jordan.

Dia pun menghimbau untuk mencari dan meraih ilmu sebayak-banyak mungkin dan kembali membangun negeri sendiri Tambrauw pada umumnya dan Senopi pada khususnya. (***)

Sumber : https://www.orideknews.com/zaman-peradaban-hingga-zaman-modern-di-pedalaman-tambrauw/

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
Close