Back
HomeBeritaBidik Regenerasi Petani, Anak Muda Manokwari Didorong Jadi Wirausaha Pertanian

Bidik Regenerasi Petani, Anak Muda Manokwari Didorong Jadi Wirausaha Pertanian

Share:

Manokwari – Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat regenerasi petani dengan mendorong generasi muda terjun ke sektor pertanian melalui Program Youth Entrepreneurship and Employment Support Services–Scaling Up Intervention (YESS-SI) yang mulai dikembangkan di Kabupaten Manokwari, Papua Barat.

Program kerja sama Kementan dan International Fund for Agricultural Development (IFAD) ini ditujukan untuk meningkatkan keterlibatan generasi muda di sektor pertanian, baik sebagai tenaga kerja kompeten maupun wirausahawan muda.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan generasi muda menjadi salah satu kunci dalam mewujudkan ketahanan dan kemandirian pangan nasional. Menurutnya, pembangunan pertanian membutuhkan generasi yang berkarakter kuat, disiplin, dan memiliki etos kerja tinggi.

“Mimpi besar kita adalah mewujudkan swasembada pangan dan menjadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia,” kata Amran.

Senada, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) Kementan, Idha Widi Arsanti, mengatakan generasi muda memiliki potensi besar menjadi penggerak transformasi sektor pertanian.

“Mereka perlu terus difasilitasi agar mampu menjadi lokomotif transformasi perekonomian perdesaan melalui modernisasi pertanian dari hulu hingga hilir,” ujarnya.

Melalui YESS-SI, Kementan membuka peluang bagi generasi muda, baik yang telah maupun belum berkecimpung di sektor pertanian, untuk meningkatkan kapasitas dan mengembangkan usaha melalui penguatan keterampilan, manajemen usaha, serta pola pikir kewirausahaan.

Direktur Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Manokwari, O’eng Anwaruddin, mengatakan YESS-SI merupakan pengembangan Program YESS yang sebelumnya telah berjalan di sejumlah wilayah Indonesia.

Hal itu disampaikan O’eng dalam Sosialisasi Program YESS-SI Kabupaten Manokwari, Kamis (10/9/2026).

“Tahun ini program tersebut berkembang ke wilayah timur, ke Papua dan Polbangtan Manokwari menjadi bagian dalam melaksanakan kegiatan ini,” kata O’eng.

Menurutnya, program tersebut menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan regenerasi petani. Berdasarkan data BPS, jumlah petani berusia di bawah 39 tahun masih kurang dari 20 persen.

“Kalau berdasarkan data BPS, petani yang berusia kurang dari 39 tahun hanya berkisar kurang dari 20 persen. Maka salah satu tugas kita adalah meningkatkan atau mewujudkan regenerasi petani,” ujarnya.

Sebagai institusi pendidikan vokasi di bawah Kementerian Pertanian, Polbangtan Manokwari turut mengawal pelaksanaan YESS-SI di Papua Barat. Melalui sosialisasi dan Focus Group Discussion (FGD), para pemangku kepentingan diajak menyamakan persepsi terkait tujuan, sasaran, dan mekanisme program sekaligus memperkuat kolaborasi dalam pelaksanaannya.

“Yang tidak kalah penting adalah memperkuat sinergi dan kolaborasi antara Polbangtan Manokwari, pemerintah daerah, dinas terkait serta mitra pembangunan lainnya dalam mendukung keberlanjutan program,” katanya.

O’eng menambahkan, YESS-SI juga akan mengidentifikasi potensi dan peluang usaha pertanian lokal yang dapat dikembangkan generasi muda melalui pendampingan.

Menurutnya, Manokwari memiliki sumber daya alam dan lahan pertanian yang besar untuk mendukung swasembada pangan. Namun, kebutuhan pangan daerah masih banyak dipenuhi dari luar wilayah.

“Mungkin kita ketahui bahwa untuk di Manokwari, pangan kita masih di-support dari luar. Tentunya harapan kita suatu saat kita bisa mandiri,” katanya.

O’eng menegaskan pelaksanaan YESS-SI sejalan dengan agenda pembangunan pertanian nasional dalam memperkuat swasembada dan kemandirian pangan. Pemerintah saat ini terus mendorong peningkatan produksi melalui berbagai program, mulai dari cetak sawah rakyat, optimalisasi lahan, perbaikan irigasi, pompanisasi, irigasi perpompaan, hingga pengembangan sektor peternakan.

Ia juga meluruskan persepsi terkait program cetak sawah rakyat yang bukan merupakan pengambilalihan lahan oleh pemerintah.

“Cetak sawah rakyat ini bukan pengambilalihan tanah atau lahan oleh pemerintah. Pemerintah membantu membuka lahan menjadi sawah dan tentunya setelah dibuka dikembalikan kepada masyarakat untuk ditanami,” tegas O’eng.

Menurutnya, peningkatan produksi pangan harus berjalan seiring dengan penguatan sumber daya manusia pertanian. Karena itu, YESS-SI diharapkan mampu melahirkan petani muda sekaligus wirausahawan yang membangun ekosistem agribisnis berkelanjutan.

“Kehadiran program YESS-SI di daerah ini diharapkan dapat menjadi katalisator lahirnya petani-petani muda yang tidak hanya berorientasi pada usaha tani skala kecil, tetapi juga mampu membangun ekosistem agribisnis yang berkelanjutan dan mendukung ketahanan pangan, baik di daerah maupun secara nasional,” ujarnya.

Ia berharap FGD YESS-SI di Manokwari menghasilkan langkah konkret agar program berjalan tepat sasaran, memberikan manfaat nyata bagi generasi muda, serta memperkuat kemandirian pangan Kabupaten Manokwari.

Lainnya

Open chat
Scan the code
Humas Polbangtan Manokwari
Hallo, ada yang bisa kami bantu?